Posted by: ariefknp | October 6, 2007

INA-DRG CASE-MIX: SOLUSI MENUJU PEMERATAAN PELAYANAN KESEHATAN

Sumber daya manusia yang unggul merupakan salah satu faktor penting dalam menyukseskan pembangunan Indonesia. Pengembangan kualitas sumber daya manusia tersebut harus dilakukan secara profesional, berkesinambungan, dan merata, agar tercipta generasi penerus yang siap menghadapi segala tantangan jaman.

Salah satu ciri yang wajib dimiliki oleh sumber daya manusia yang unggul adalah sehat jiwa maupun raga. Dengan kondisi kesehatan yang prima, manusia dapat menjalankan perannya dengan baik, sehingga ia dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Kesadaran akan hal itu membuat Pemerintah Indonesia, melalui Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), terus berupaya memperbaiki taraf kesehatan rakyat Indonesia.

Itu bukanlah tugas yang mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi Depkes RI dalam menjalankan tugas mereka. Salah satunya adalah karakter masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Di antara karakter-karakter tersebut, kemampuan ekonomi masyarakat merupakan salah satu masalah yang cukup sering ditemui. Cukup sering kita mendengar, bagaimana sulitnya masyarakat miskin di Indonesia memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, dikarenakan alasan biaya. Bagi mereka, biaya pelayanan kesehatan yang ada saat ini, cukup memberatkan. Padahal, Depkes RI telah melakukan banyak upaya untuk membantu masyarakat miskin untuk terbebas dari masalah tersebut. Pekan Imunisasi Nasional, Obat Generik, Puskesmas dan Posyandu, Askeskin. Semua itu merupakan sedikit dari banyak upaya pemerintah untuk memudahkan masyarakat miskin memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau. Akan tetapi, masalah tersebut masih saja muncul. Biaya pelayan kesehatan masih tetap terasa mahal. Apa yang salah? Apakah pelayanan kesehatan yang memadai selalu memerlukan biaya tinggi?

Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Perkembangan dunia kesehatan memangs semakin pesat. Berbagai teknologi baru bermunculan. Riset-riset untuk menghasilkan inovasi baru harus terus dilakukan. Semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit Ditambah lagi, persaingan di dunia kesehatan yang makin ketat. Banyak institusi pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit dan klinik, yang bermunculan. Kehadiran institusi-institusi tersebut, tidak hanya didasari semangat untuk menolong, tapi ju memiliki sisi bisnis yang tidak bisa dikesampingkan. Tentu saja, dalam bisnis, seir pihak mengharapkan keuntungan dari bisnis yang mereka jalani tersebut.

Masalahnya, upaya mencari keuntungan tersebut dilimpahkan kepada masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan. Itu artinya, institusi pelayanan bergantung pada uang yang dibayarkan masyarakat atas jasa yang telah mereka berikan. Semakin banyak uang yang dibayarkan, semakin besar pula keuntungan yang didapat. Akibatnya, banyak institusi pelayanan medis yang mengambil jalan pintas dengan menentukan tarif pelayanan medis secara sembarangan. Ini disebabkan tidak adanya standar baku yang berlaku secara nasional untuk menghitung dan mengevaluasi pelayanan medis yang harus dikenakan pada masyarakat. Itu sebabnya, sering terjadi perbedaan biaya pada institusi pelayanan kesehatan yang berbeda, walaupun diagnosis yang dilakukan sama. Akibatnya, banyak pengguna jasa pelayanan kesehatan merasa ditipu. Namun, masyarakat tidak mampu melakukan perlawanan karena tidak adanya patokan yang bisa dijadikan dasar untuk melakukan klarifikasi.

Ketiadaan standar ini memang sangat merugikan konsumen jasa pelayanan kesehatan, terlebih lagi bagi golongan masyarakat miskin. Umumnya, masyarakat miskin tidak memiliki banyak pilihan dalam hidup mereka. Selain itu, pengetahuan serta akses mereka menuju pelayanan kesehatan yang murah dan memadai juga terbatas, sehingga, mereka dengan mudah menerima apa pun yang dikatakan atau disarankan oleh dokter atau rumah sakit. Akibatnya, ketika mereka mengetahui jumlah kewajiban yang harus mereka lunasi, mereka tidak berdaya. Akhimya, mereka lebih memilih untuk menjauhi institusi pelayanan kesehatan karena merasa takut dengan biaya yang mahal.

Ini tentunya sesuatu yang tidak diharapkan oleh Depkes RI dalam menjalankan visi misinya, MENUJU INDONESIA SEHAT 2010. Diperlukan sebuah solusi yang efektif untuk menanggulangi masalah tersebut. Sebuah solusi yang dapat menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan yang memadai, terjangkau, Solusi itu kini tengah diuji coba di Indonesia, yang dikenal dengan nama Indonesia Diagnosis Related Group (INA-DRG).

Case-Mix pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980. Sebelum masuk ke Indonesia, sistem Case-Mix telah diterapkan di banyak negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Australia, serta Malaysia. Case-Mix Indonesia merupakan adaptasi dari sistem serupa yang diterapkan di Malaysia. Dalam hal ini, Depkes RI menggandeng Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), sebagai partner untuk merumuskan sistem Case-Mix yang paling sesuai bagi Indonesia. Kerja sama ini berbentuk sebuah Pilot Project Implementasi Case-Mix di 15 rumah sakit di Indonesia.

Centre for Case-Mix adalah sebuah wadah yang dibentuk Depkes RI, yang bertugas mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data dan informasi mengenai pelaksanaan Case-Mix di 15 rumah sakit yang telah ditunjuk pemerintah sebagai tempat uji coba sistem Case-Mix. Berbekal data yang dikirimkan dari rumah sakit-rumah sakit tersebut Centre for Case-Mix menyusun daftar INA-DRG. Adapun rumah sakit yang berpartisipasi dalam kerja sama ini adalah :

  1. RSU H. Adam Malik, Medan
  2. RSUP Dr. M. Djamil, Padang
  3. RSUP Dr. M. Hoesin, Palembang
  4. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  5. RSUP Fatmawati, Jakarta
  6. RSUP Persahabatan, Jakarta
  7. RS Anak Bunda Harapan Kita, Jakarta
  8. RS Jantung & Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta
  9. RS Kanker Dharmais, Jakarta
  10. RSUP Hasan Sadikin, Bandung
  11. RSUP Dr. Kariadi, Semarang
  12. RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta
  13. RSUP Sanglah, Denpasar
  14. RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar
  15. RSUP Dr. R. D. Kandou, Manado

Case-Mix merupakan sistem pembayaran pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan mutu, pemerataan, jangkauan dalam sistem pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu unsur dalam pembiayaan kesehatan, serta mekanisme pembayaran untuk pasien berbasis kasus campuran. Case-Mix merupakan suatu format klasifikasi yang berisikan kombinasi beberapa jenis penyakit dan tindakan pelayanan di suatu rumah sakit dengan pembiayaan yang dikaitkan dengan mutu dan efektivitas pelayanan.

Dalam sistem Case-Mix, terdapat 14 variabel mengenai pasien yang perlu dicatat oleh rumah sakit, yaitu :

 

  1. Identitas Pasien
  2. Tanggal masuk rumah sakit
  3. Tanggal keluar rumah sakit
  4. Lama hari rawatan
  5. Tanggal lahir
  6. Umur ketika masuk rumah sakit (dalam satuan tahun)
  7. Umur ketika masuk rumah sakit (dalam satuan hari)
  8. Umur ketika keluar dari rumah sakit (dalam satuan hari)
  9. Jenis kelamin
  10. Status keluar rumah sakit (discharge disposition)
  11. Berat badan baru lahir
  12. Diagnosis utama
  13. Diagnosis sekunder, seperti komplikasi dan komorbiditas
  14. Prosedur atau pembedahan utama

 

Dalam sistem Case-Mix, yang menjadi perhatian adalah bauran kasus, yaitu apakah diagnosis utama yang ditegakkan pasien serta komplikasi apa yang mungkiri terjadi akibat diagnosis utama tersebut. Diagnosis utama itu lah yang dijadikan acuan untuk menghitung biaya pelayanan. Penghitungan biaya berfokus pada variabel tersebut, sehingga rumah sakit tidak akan mencantumkan hal-hal yang tidak seharusnya dalam pembayaran. Dengan demikian, penghitungan biaya menjadi lebih mudah dan tepat. Tidak ada pembayaran untuk hal-hal yang sekiranya tidak berhubungan atau tidak perlu. Prioritas pelayanan pasien akan diberikan sesuai dengan tingkat keparahan, dan tidak dilakukan secara sembarangan. Ini tentunya dapat menekan biaya pelayanan kesehatan yang kerap menjadi masalah bagi masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Masyarakat tidak akan merasa ditipu akibat harus membayar biaya di luar pelayanan yang seharusnya.

Selain memberikan fokus dalam masalah penghitungan biaya, Case-Mix juga memberikan standar nasional mengenai berapa biaya yang harus dikenakan untuk diagnosis tertentu. Hal ini memberikan kepastian sekaligus transparansi pada masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan. Dengan demikian, biaya dapat diprediksi, dan keuntungan yang diperoleh rumah sakit pun dapat lebih pasti. Pemerataan pelayanan kesehatan di Indonesia lebih mungkin untuk tercapai karena adanya standardisasi tariff secara nasional. Standardisasi bukan hanya berguna bagi masyarakat miskin, tetapi juga bagi masyarakat golongan menengah atas yang terbiasa berobat ke luar negeri. Dengan adanya tarif standar yang lebih terjangkau, mereka tentunya akan berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk berobat ke luar negeri.

Dengan data yang begitu lengkap dan akurat, Case-Mix juga dapat berfungsi sebagai mjukan bagi Rumah Sakit dalam melakukan penilaian terhadap berbagai pelayanan yang telah diberikan Dengan demikian, efektivitas pelayanan kesehatan dapat terkontrol dan dievaluasi karena sistem yang ada sudah memiliki standar dalam hal penggunaan berbagai sumber dayanya. Dengan demikian, rumah sakit memiliki acuan yang jelas dalam usaha meningkatkan mutu pelayanan mereka.

Namun, pelaksanaan Case-Mix pun tidak lepas dari berbagai kendala. Salah satunya adalah kendala dalam melakukan diagnosa dan pengkodeannya. Sampai dengan sekarang, selain ke-15 rumah sakit berpartisipasi, rumah sakit di Indonesia banyak yang belum mulai menggunakan pengkodean medis. padahal, kunci sukses dari penyusunan Case-Mix adalah pada diagnosa dan pengkodean yang teliti. Depkes RI telah berusaha mengantisipasinya, dengan mengadakan pelatihan pengkodean, diagnosis, dan prosedur yang mengikuti standar intemasional.

Selain itu, pengumpulan informasi tentang berbagai variabel serta biaya dalam Case-Mix juga tidak mudah. Memerlukan usaha yang keras, komitmen, serta motivasi yang tinggi. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi juga tengah diusahakan demi mempermudah penerapan Case-Mix. Dalam sejumlah kasus, seperti di ruang isolasi, Case-Mix juga sulit diterapkan karena besar kemungkinan pasien mengalami perpindahan diagnosis utama dari DRG menuju tingkat yang lebih mahal.

Dalam pengembangannya, Depkes RI menggunakan software Clinical Cost Modelling Software yang menggunakan 3 macam pendekatan costing konvensional yang berbeda, yaitu Step-Down Costing, Activity-Based Costing, dan Case-Mix Costing. Dengan mengkombinasikan 3 pendekatan itu, informasi yang dihasilkan lebih akurat dan stabil.

Dengan begitu, jelaslah kiranya bahwa Case-Mix sangat diperlukan oleh rakyat Indonesia dalam mengambil keputusan mengenai pelayanan kesehatan. Melalui forum ini, diharapkan INA-DRG akan tersosialisasikan dengan lebih luas, sehingga masyarakat makin sadar dan mau untuk menggunakan jasa pelayanan kesehatan tanpa merasa takut terbebani biaya. Harapan yang tak kalah pentingnya, INA-DRG dapat membantu masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, sehingga kualitas hidup meningkat, dan visi INDONESIA SEHAT 2010 dapat menjadi suatu kenyataan.

 


Responses

  1. salam kenal !

  2. tulisan ini perlu dikembangkan dengan contoh penetapan ina-drg aplikasi dari RS percontohan utamanya dari kategori 10 penyakit tersering muncul di RS. semoga sukses

  3. bagaimana merumsukan jenis pelayanan kesehatannya dalam kerangka skema jaminan kesehatan universal?

  4. Y…gt deh…..!!

    Dagg…..

    Heheh…..

    ^_^

  5. Sy pelajari INA DRG u sistem secara umum sangat bagus,kt bisa secara sistem setara dengan negara maju. Cuma mengapa ada pengklasifikasian untuk RS type A, B, C/D, dll padahal kualitas pelayanan di RS type lebih bawah untuk saat ini harus setara dengan klas atasnya. Untuk RS type C/D mungkin kurang signifikan dikaitkan dengan cost unit? kebetulan kami bekerja di RS type C Swasta dan menerima program askeskin. Tersedia juga pelayanan askeskin untuk hemodialisa. Perbandingan case mix ina drg ,Insya Allah bapak Arif sudah paham. Mungkin ada share.TKS jawabannya.

  6. Bagus sekali tulisannya, tapi ada hal yang kurang tepat yaitu malaysia belum mengaplikasikan Case Mix/DRG. Hanya 1 RS yang menggunakan casemix dan itu tidak diberlakukan secara nasional di malaysia. Munkin bisa jadi masukan.

  7. kalo kaya sekarang yang katanya semua RS mpe di daerah juga pake INA-DRG buat pentarifan…SDM dll apa kabarnya ya pak? plus billing system yang banyak belum dipake…pa lagi dengan perangkat komputer yang belum ada..

  8. saya kuliah di rekam medis.sekarang saya sedang menyusun KTI.saya mengambil judul kelengkapan data dalam rangka menunjang sistem case-mix.tetapi semua teman-teman saya menyepelekan judul yang saya ambil dengan alasan bahwa sistem case-mix adalah program gagal yang dilaksanakan Depkes.

  9. Saya melihat tujuan dari penerapan INA-DRG ini baik, berusaha untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pelayanan dan efisiensi (bukan pelit). Selama ini Terkadang pasien sangat dirugikan dengan paradigma fee for service. pasien harus bayar setiap kali ditindak atau visite oleh dokter. kalo pikiran jelek boleh jadi dong, tinggalnya di lama-lamain biar dokter dapet duit banyak. kalo dah gini siapa yang rugi coba.

    Dengan sistem paket, RS dan semua tenaga medis dituntut untuk melakukan penghematan sedemikian rupa sehingga biaya yang dikeluarkan tidak melebihi biaya klain bahkan kurang. Namun demikian kesembuhan pasien tetap menjadi prioritas.

  10. Assalamu’alaikum…
    Mas,,bersediakah dirimu jadi konsultan TA ku?
    hehehe…………….

    renacana mau ngambil topik TA yg mas usul kemaren tu
    “kesiapan RS dlm menerapkan sistem DRG,,

    tp mau bahas apa y ttg itu,,msg bingung,,,

    minta ide lagi donk..

    nuwun…………
    wassalamu’alaikum…..

  11. pa kbr maz arif, knalkan ni tyas RM UGM 03. Q mo tanya, maksudnya lama hari rawatan itu sama dengan lama dirawat (tgl keluar-tgl masuk)ataukah hari perawatan yang ada dlm sensus harian (jml pasien kmr + px. masuk+ px. pindahan – px. pulang hidup/mati – px. dipindahkan).trims………….

  12. wah.. thank ya, mas arif. tulisannya sangat berguna bagi saya yg kebetulan lg nyari2 ulasan ttg casemix. tapi bisa kasih penjelasan lagi nggak ttg beda step down costing, casemix sama actifity based costing, en dimana peran clinical pathways pd sistim casemix. thanks…

  13. pengobatan bisa mahal atau murah tergantung kepada dokter dalam pemeriksaan pasiennya.
    pemberian obat yang tepat dan murah, pemeriksaan penunjang diagnosis yang mengarah

  14. kita selalu mengaplikasikan sistem orang lain untuk diri kita,kesannya terlalu di paksakan…kenapa tidak diciptakan sistem kita sendiri,buatan sendiri yang lebih bisa disesuaikan dengan kondisi kita…mohon jadi pemikiran

  15. Dimana kami dapat download software ina drg yang bapak tawarkan? terima kasih

  16. Salam kenal…..
    Bole bertanya lebih jauh tentang INA_DRG ga???

  17. INA DRG / CASE MIX bukan untuk “mengontrol dokter?” Tapi secara tidak langsung memang mengontrol dokter thd pola pemberian obat yang terkadang lebih senang memberikan obat dengan merk dagang tertentu ( obat mahal ). Untuk itu memang patut dibuat standar tarif. Tapi pertanyaannya : Apakah tidak seharusnya dibedakan antar regional tertentu, mengingat di Jawa beda dengan diluar Jawa ( misal harga obat, alkes, dsb ). Trims

  18. Lam kenal..
    Mo tanya nechh..
    Saya pernah tau mengenai INA-DRG.. Dlm INA-DRG ada SW tersendiri di luar SW SIMRS yg digunakan RS. Supaya praktis bs tdk data yg diperlukan dlm INA-DRG di ambil dr input data di SIMRS. Jd tdk perlu entry data berulang.. Thx..

  19. saya seneng bgt ada blog ttg rekam medis ini, sangat membantu saya dalam mencari informasi ttg rekam medis, terutama case mix. thx mas Arif, sukses selalu…

  20. mau tahu draftnya ina-drg donk? kira2 bisa download free gank…he..he

  21. mas.. bisa dikirimkan program ina-drg terbaru dan tahap instalasi yang benar? rs kami sudah adpat license tapi belum bisa digunakan? thx.. (rsalarif@yahoo.co.id)

  22. bisa dijelasin lebih dalm gak soal instalasi ina-drg? (rsalarif@yahoo.co.id)

  23. bisa kirim cd ina-drg and tahap instalasi yang benar? cz rs kami sudah dapat license tpi blm bisa di gunakan.. thx (rsalarif@yahoo.co.id)

  24. INA-DRG sedang booming di Indonesia, karena itu membantu meningkatkan derajad kesehatan masyarakat indonesia pada umumnya dalam menerima pelayanan kesehatan dengan merata berdasarkan pembiyayaan berdasarkan diagnosis? tul tho mas??? Piye kabare???

  25. Satu lagi mas….peluang profesi perekam medis dalam penerapan sistem INA-DRG sangat menentukan dalam penentuan biaya, contohnya:KODE ICDX yang akurat dan tepat. Untuk itu koder di Indonesia masih banyak diperlukan.. Tuk adek2 rekmed angkatan baru, cobalah untuk mencintai koding ICD X dan mempelajarinya dengan tekun, kelak dihari depan kalian akan rasakan manfaatnya…
    Koder di luar negri, memiliki gaji yang lebih besar dari dokter di RS. Indonesia kenapa tidak??? Perekam medis adalah perintis koder profesional di Indonesia. Good Luck 2 ALL Medical Record Administrator of Indonesia!

  26. hebat2, tapi gimana info terbaru ttg casemix inadrg, dah ada yg bisa dklaim blom…

  27. Asw…., Sy senag bgt ada INA-DRG. Dgn bgt Adm di RS bagi ply Kesehatan Jamkesmas terlaksana dgn baik & gk ada input data berulang dari pasien sendiri. Se tau sy INA-DRG mrpk sistem paket yang py lose 8 hari. Jd gmn tuh, bg pasien yg dirawat lbh dari lose yg sdh t3kan?????????
    Apakh prlu adm diulang??????
    Or prlakuan khusus bg pasien tsb????

    INA-DRG Sendiri udh berlaku mulai 1 Januari 2009. Knp byk RS yg blm bisa menerepkan sistem tsb???????

    Tlg dong,gmn mdptkan securty code casemix dg mudah????????

  28. Kita lagi cari referensi ttg INA DRG. RS tipe C mana ya yg dah jln…kpn ke pku bntl?

  29. Woooi ada yang punya aplikasi ICD 9-CM ga repot banget nih temen2 yang di rekam medis kalo pake aplikasi kan jadi cepet ya

  30. Sy bekerja di RS milik daerah tipe C yg sdh mengaplikasikan INA DRG untuk proses pengklaiman Jamkesmas.
    Sy pikir aplikasi sistem yg digunakan blm sempurna, salah satunya blm ada menu untuk edit data pasien. Ini menjadi kendala yg sangat berarti bagi petugas di lapangan.
    Terima kasih

  31. Lam knal maz arif,,sy dari RM Sby,,d INA-DRG, diagnosa utama mjd dasar hitungan pembiyayaan RS,karnanya diagnosa dan pengkodean sgt penting. bnyk hal yg harus dipelajari ttg Case-mix. termasuk kendalanya.

    Thx maz arif,,bahasan ni nambah wawasan. SUCCESS 4 Medical Records.

  32. nggk ada aplikasi untk ICD IX dan X

  33. namanya aza case mix ya artinya kasus nya campur campur,,,mulai dari pasien, dokter, bahan nya,,ampek pembagian duit jasmednya.

  34. bagaimana untuk ina -drg ver 1.6?? kapan diadakannya pertemuan utk semua rumah sakit di Indonesia

  35. saya benar-benar tidak mengerti dengan paket INA-DRG versi 1.6. mohon penjelasannya. saya sangat sulit mendapatkan info mengenai jamkesmas
    semua serba tidak jelas disini (di daerah saya)

  36. mohon penjelasannya dikirim via email ya pak. terima kasih

  37. salam kenal, mohon bantuannya referensi (buku/jurnal) tentang INA DRG, sy sedang menulis thesis dg tema evaluasi struktur biaya operasi sc dan app dalam upaya penerapan cost leadership.

  38. pa Arief, bisa minta bahan-bahan ttg INA-DRG ga ?
    terus untuk sekarang, katanya kita punya INA-CBGs .
    ada sistemnya beda ?
    makasi

  39. INA-DRG Case-mix adalah sistem pengklasifikasian diagnosis atau tindakan yang penanganannya dan biaya yg di perlukan hampir sama pula, bertujuan kendali mutu kendali biaya.
    Komponen dalam pelaksanaan sistem INA-DRG terdiri dari :
    Koding, Clinical Pathway, dan Costing

  40. @pak kayun
    mohon penjelasannya tentang INA CBGs?

    terimakasih

  41. pak mohon penjelasan lengkap proses penggunaan INA DRG mulai dari awal sampai akhir dengan contoh pasien mulai dari masuk RS (poliklinik/IGD) sampai pasien pulang

  42. izin copas ke blog saya pak :)

  43. pak ariif bisa minta kirimkan proposal simrs ke email saya.

  44. Pak Arif, mohon penjelasan INA CBG’s dan apa kepanjangannya?

  45. DRG sebagai program Depkes. Buat saya hal itu adalah gambaran ketidak seriusan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan.

  46. Ya q ga pembalap


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: